Knit It Love It


Judul : Knit It Love It; Rajut Cantik Rajut Unik
ISBN: 978-602-8276924
Teknik yang digunakan: Knitting (Breyen)
Penulis : Ajeng Galih Sitoresmi
Tebal : 48 Halaman (Full Color)
Tahun Terbit: 2013
Penerbit : Kana Media (Kelompok Galang Press)
Harga: 34.000 (Kalau mau pesan langsung saja sms atau whatsapp ke 082120060035)
 

Ahai, sudah lama sekali tidak mengisi blog dengan ulasan buku baru, ya. Hehehe, sok sibuk, nih. Ih, sibuk kok bangga, ya. Hihihi, itu sih kata Mas Amri, salah satu trainer dan penggiat bersepeda di Bandung.
Ada beberapa buku rajutan baru, yang memang baru banget terbit. Salah satunya adalah buku ini. Judulnya Knit It Love It. Buku berbasis knit, yang memang masih jarang banget di pasaran. Terhitung ada hmmm... masih kurang dari sepuluh buku yang berbasis knitting.

Buku ini ditulis oleh Ajeng Galih Sitoresmi, pemiliki Poyeng Hobby. (halo Mba Ajeng, #dadahdadah). Kesan pertama ketika buku ini akhirnya sampai di tangan saya adalah buku ini sangat akrab dan personal. Ketika membacanya, seperti kita diajak bereksplorasi dengan belajar sekaligus "ngobrol" bersama penulisnya. Setiap rajutannya diceritakan sejarahnya mengapa sampai lahir projek rajutan tersebut.

Mengingat, penulisnya juga jago menggambar, ilustrasi dalam buku itu pun dibuat sendiri dan khusus untuk buku itu. Percaya, deh, ketika buku itu juga sampai di tangan kalian, kesan keakraban dan spesial itu terasa sangat kental. Dan itulah yang membuatnya berbeda dengan buku rajutan lainnya.

Contoh ilustrasi dari salah satu projek rajutan.
 Yuk, kita intip daftar isi buku ini, supaya tidak penasaran apa saja isinya.


Buku ini bisa dibilang adalah buku lanjutan dari buku Sehari Mahir Merajut. Secara ukuran, buku ini lebih kompak daripada buku yang pertama. Ukurannya lebih kecil, tetapi isinya tidak kecil. Layoutnya manis, fotonya keren, projeknya mudah dikerjakan dan "cepat" bukan tipikal projek rajutan besar yang lama dikerjakan.

Buku ini, menurut saya, sih, wajib dimiliki para perajut. Perajut yang sudah bukan pemula tetapi belum mahir biasanya mencari-cari projek yang bisa dikerjakan, sementara buku rajutan lokal untuk knitting, projeknya masih kurang variasi. Bisa aja sih, sebenarnya ke website rajutan luar karena banyak pola gratis, tetapi biasanya keterbatasan membaca pola dalam bahasa Inggris masih menjadi masalah bagi sebagian (persentasenya biasanya bisa sebagian besar atau sebagian kecil) perajut pemula. Karena itu, buku ini bisa jadi pilihan terbaik untuk perajut intermediet, pemula sudah lewat, tapi belum terlalu mahir juga.

Dalam buku ini ada empat belas projek yang bisa dikerjakan. Rentang waktunya bervariasi. Ada yang cepat ada yang lambat. Cocok banget buat last minute gift buat sahabat, tetangga, kerabat, atau bahkan diri sendiri. Buat usaha juga cocok banget, terutama gelangnya, bisa banget buat gelang persahabatan gitu. :P

Dalam setiap projeknya juga dilengkapi dengan keterangan sebagai berikut.
  1. Tingkat kesulitan projek yang diukur dengan simbol love. Kalau simbol lovenya satu berarti itu untuk pemula, simbol love dua semi intermediate, dan simbol love tiga untuk perajut intermediate to advance. 
  2. Ukuran projek dan peruntukannya.
  3. Benang yang dipakai
  4. Ukuran stik rajut yang dipakai
  5. Tensi rajutan alias gauge
  6. Abbreviation alias teknik apa saja yang digunakan dan singkatan teknik yang digunakan. Ajeng Galih sengaja tetap menggunakan istilah asli dalam bahasa inggrisnya alasannya semata-mata demi memudahkan agar pembaca nantinya tidak asing lagi dengan istilah itu dan bisa membaca pola ketika membaca pola berbahasa inggris dan lebih memudahkan pula ketika mencari melalui google atau youtube.
Penulis juga menyertakan hal-hal mendasar yang perlu diketahui para perajut. Hal-hal ini terkesan sepele, tapi ini adalah teknik dasar dan istilah-istilah yang harus dipahami oleh para perajut. Hehehe, saya juga sering melewatkannya. Karena kurang sabar dan terburu-buru.


Selain hal-hal yang perlu diketahui oleh perajut, penulis juga menyertakan cara memakai buku Knit It Love It. Bagian ini berisi hal-hal yang perlu diperhatikan selama membaca dan mencoba projek-projek yang ada dalam buku ini. 


Pastikan membaca kedua bagian tersebut, terutama bagian Kamu Perlu Tahu! Karena itu penting dalam pengetahuan tentang teknik merajut. Nah, sekarang, yuk, kita intip apa saja projeknya.


 

  



 










Nah, itu dia projek yang ada dalam buku ini. Overall, saya suka banget sama buku ini. Oh, satu lagi, buku ini tetap dilengkapi dengan informasi tentang teknik merajut yang masih diperlukan. Jadi, semisal sekalipun buta merajut, Anda tetap bisa belajar. 





Satu lagi yang saya suka banget dari buku ini adalah ilustrasinya, termasuk coretan tulisan tangan asli penulisnya. Jadinya berasa personal dan akrab banget, serasa disuratin dan diajak ngobrol sama penulisnya. 


Tuh, kan, manis banget. Mbak Ajeng, Selamat, Ya. Congratulation. Makasih udah bikin buku yang cantik ini. Semoga ke depan bisa bikin buku lagi dan lagii.

Posted in , , , , , , , , , , | Leave a comment

Sekelumit Sejarah Merajut


Sebagian besar sejarah merajut masih jadi misteri besar. Di Negara mana, budaya dan teknik merajut ini berasal, siapa yang pertama kali menemukan tekniknya juga masih belum diketahui secara jelas. Catatan sejarahnya masih sedikit dan masih menjadi pertanyaan besar terutama bagi mereka yang meriset tentang dunia merajut.



Fragmen kaus kaki rajutan yang kali pertama ditemukan. Kaus kaki dengan motif kaligrafi kufi Arab yang rumit. Sumber gambar www.knitty.com

Hasil rajutan yang kali pertama ditemukan adalah sepasang kaus kaki berbahan katun dengan stockinette stitch yang ditemukan di Mesir pada 1000 M dengan motif kaligrafi yang rumit. Teknik merajut yang digunakan saat ini diduga berasal dari Timur Tengah yang kemudian ditransferkan ke benua Eropa melalui Spanyol. Cara merajut asal Timur Tengah yang digunakan untuk merajut permadani inilah yang menarik perhatian masyarakat Spanyol dan Italia untuk mengikutinya. Penyebaran permadani asal Timur Tengah bisa dibilang telah menjelajahi separuh dunia karena itulah keterampilan merajut pun turut menyebar hingga Eropa.
Memang banyak di antara periset sejarah rajutan yang menyimpulkan bahwa teknik merajut berasal asli dari Timur Tengah dan Islam. Tapi Julie Theaker dengan pisau analisisnya yang tajam dalam salah satu artikel berjudul History of Kniting (artikel bagus, Anda harus membacanya) yang ditulisnya dan dimuat di www.knitty.com mengungkapkan bahwa merajut memang kemungkinan besar berasal dari Timur Tengah. Alasannya, penemuan hasil rajutan kuno biasanya menggunakan benang yang berasal dari sutra atau katun. Logikanya jika budaya merajut berasal dari Eropa maka tentunya benang yang digunakan adalah wol. Bukti lainnya adalah teknik merajut sebagian besar diajarkan dari kanan ke kiri bukan dari kiri ke kanan (kidal). Jika dianalogikan dengan budaya menulis orang Arab, mereka pun menulis dari kanan ke kiri. Berbeda dengan budaya menulis orang Eropa yang menulis dari kiri ke kanan.
Pada abad pertengahan, keterampilan merajut pun mengalami inovasi dan perkembangan yang sangat pesat di Eropa baik dari segi teknik maupun bahan dan peralatannya. Bahkan, pernah sampai dibuat benang yang berasal dari emas yang dirajut untuk dibuat jubah mewah bagi para pembesar istana. Kala itu, rajutan hanya untuk kalangan tertentu dan dianggap sangat berharga. Saking terbatasnya pengguna sandang rajutan ini, mereka yang pandai merajut pun dikumpulkan dalam satu tempat khusus dan dianggap sebagai orang yang terhormat.
Hampir semua perajut di sana berjenis kelamin laki-laki. Jika ada pemuda yang ingin bergabung menjadi perajut, mereka harus magang dan menjadi pelayan bagi para master perajut yang tinggal di sana. Mereka pun harus menempuh ujian yang mengharuskannya membuat desain adibusana atau mahakarya dengan teknik baru ciptaan mereka dan benang khusus yang mereka pintal sendiri. Setelah mereka lulus dari ujian tersebut, maka mereka baru bisa menyandang gelar sebagai master perajut. Setelah menjadi master, dia baru boleh menerima murid dan mengulangi prosesnya lagi dari awal sebagaimana yang pernah dilaluinya.
Eksklusivitas karya rajutan pada saat itu menjadikannya tidak menoleransi mutu yang rendah karena semua bahan dan hasilnya harus memenuhi standar tinggi yang telah ditetapkan oleh organisasi perajut kuno tersebut. Jika peraturan tersebut dilanggar maka gelar masternya akan dicabut dan dia dikeluarkan oleh organisasi tersebut. Seiring dengan perkembangan zaman dan pertambahan jumlah penduduk, sandang yang berasal dari rajutan tidak menjadi terlalu eksklusif lagi. Dan bisa jadi mereka yang dikeluarkan oleh organisasi perajut tersebut membuat merajut menjadi lebih familiar dan bisa dilakukan oleh siapa pun. Penyebaran ilmu merajut pun semakin luas dan setiap tempat memiliki teknik dan karakteristik tersendiri dalam rajutannya. Sebagai contoh, masyarakat di Pulau Aran yang punya budaya membuat sweater yang memiliki kabel dengan pola pelintiran yang rumit. Atau di Peru yang punya budaya merajut dengan motif unik dan kombinasi aneka warna yang mirip dengan motif fair isle dari skandinavia. Meskipun mirip, tetapi tetap ada perbedaan yang khas antara Peruvian Knitting dan Fair Isle Knitting.


Contoh sweater Aran yang penuh dengan motif kabel dan biasa digunakan oleh para pelaut daerah Skandinavia.
Gambar diambil dari www.aranknit.com

Di wilayah Norwegia terdapat tradisi membuat sweater, jaket, atau kardigan dengan kombinasi warna yang unik dan rumit yang lebih dikenal dengan rajutan fair isle. Diduga budaya merajut di Norwegia tersebut berasal dari kapal asal Spanyol yang terdampar di sana (kurang lebih pada abad 16) dan para pelaut yang menggunakan baju hasil rajutan dan mengajarkan penduduk lokal, terutama wanita, untuk belajar merajut. Dan kemampuan tersebut terus berkembang dan kini motif fair isle tersebut telah terkenal di seluruh dunia.

Sweater dengan motif fair isle.
Gambar diambil dari www.speakin-colors.blogspot.com

Tidak banyak orang yang mengetahui kalau sebenarnya dahulu para perajut itu sebagian besar adalah kaum lelaki. Orang-orang sekarang menganggap merajut adalah kegiatan nenek-nenek berkacamata yang menghabiskan waktunya dengan merajut sambil duduk di kursi goyang. Padahal itu ada sejarahnya. Ini berkaitan dengan sejarah merajut di Eropa, utamanya Inggris. Revolusi industri ketika itu telah berhasil memunculkan mesin rajut yang membuat rajutan tidak lagi menjadi buatan tangan melainkan menjadi komoditas industri yang diproduksi secara massal.
Revolusi industri dengan penemuan mesin rajut tersebut mengakibatkan para perajut handmade ini tersisih sehingga merajut hanya menjadi kegiatan rumahan yang dilakukan oleh wanita. Lambat laun, seiring dengan perkembangan zaman, merajut merupakan salah satu keterampilan yang wajib dimiliki oleh wanita bangsawan di Inggris pada masa Victoria.
Popularitas merajut, sempat mengalami pasang surut. Meskipun demikian, di beberapa daerah merajut merupakan kebudayaan yang diwariskan dari ibu ke anaknya secara turun temurun. Bahkan di satu daerah di pesisir Inggris ada tradisi seorang calon mempelai wanita harus membuat sweater untuk dihadiahkan kepada calon suaminya pada hari pernikahan mereka. Di wilayah pesisir Inggris lainnya disebutkan bahwa para wanita bahkan merajut membuat sweater yang diberi nama suami atau nama kapal yang dimiliki oleh suaminya.
Di Indonesia sendiri, merajut tidak sepopuler merenda. Budaya merajut dibawa oleh Belanda ketika mereka datang menjajah Indonesia. Keterampilan inilah yang ditularkan oleh para noni Belanda pada wanita pribumi Indonesia. Karena itu pula maka nama stik merajut dikenal dengan breien.
Saat ini, merajut tampaknya mulai menemukan popularitasnya lagi. Di luar negeri, banyak beredar buku merajut dan majalah merajut. Bahkan jika diperhatikan, di dunia maya, perkembangan komunitas merajut semakin pesat dengan banyaknya website merajut dan blogger-blogger perajut yang mendesain apa  yang mereka kenakan dan gunakan untuk kebutuhan sehari-hari. 
Elizabeth Zimmerman

Salah satu perajut yang tersohor adalah Elizabeth Zimmerman yang menahbiskan dirinya sebagai opionated knitter alias pecandu rajutan. Masih banyak lagi desainer rajutan atau para perajut yang menjadikan merajut sebagai jalan mereka mencari penghidupan. Nah, pertanyaan saya, apakah Anda termasuk salah seorang yang juga menuju ke sana?

Leave a comment

Boneka Rajut Amigurumi Nusantara

 

Judul : Boneka Rajut Amigurumi Nusantara
Teknik yang digunakan: Crochet (mengait) dan Knit (rajut)
Penulis : Ami Lovers (Mia Sabrina, Henny Sandra, Festilia Meiandana L, Agnes Romania, Devi Rahardjo, Yuniar Wibowo)
Tebal : 168 Halaman (Full Color+BW)
Penerbit : Tiara Aksa (Kelompok Puspa Swara)
Harga: 59.000 (Bandrol Toko) - Beli di saya Rp52.000 (Bonus disampul plastik rapi)
Kalau mau pesan langsung saja sms ke 082120060035 :P

Pertama kali liat cover buku ini dishare di fb oleh salah satu pengarangnya, saya langsung teriak hore. Alhamdulillah ada buku rajutan baru lagi. Buku ini mengingatkan pada lomba amigurumi nusantara yang diadakan oleh Rajutan Mama sekira tahun 2010 yang lalu.


Beberapa hari kemudian, saya mampir ke toko buku di jalan Supratman Bandung untuk membeli beberapa buku pesanan yang stoknya sedang habis di distributor. Kali itulah pertama kali saya memegang bukunya secara langsung. Saya takjub, wah tebel beneer, 168 halaman sodara-sodara. Wajar sebenarnya karena buku ini pasti bermain di detail. Pasti detail banget karena banyak pernak perniknya.


Hal lain yang terlintas ketika membuka halaman demi halaman buku ini adalah, buku ini kurang cocok untuk yang baru belajar atau baru memulai. Buku ini cocok bagi mereka yang sudah menetapkan tujuan mereka dalam merajut. Bisa dilihat dari daftar isinya yang tidak seperti buku rajutan lainnya.

Menetapkan tujuan, haiah, apa maksudnya pula ini. Maksudnya, sudah menetapkan pilihan untuk menekuni bidang rajutan spesialisasinya. Ada banyak bidang dalam dunia merajut, ada wearables, alias baju, topi, sepatu, dan lainnya. Ada spesifikasi asesoris seperti tas, bros, dasi, dan lain-lain. Spesifikasi lainnya adalah home decoration seperti membuat doilies dalam ukuran kecil atau besar, tutup aqua, tutup tempat tisu, dan lain-lain. Terakhir adalah pernak-pernik boneka baik ukuran kecil maupun besar.


Nah, menurut saya amigurumi, adalah salah satu bidang yang sangat menantang (bahasa lainnya susah, hehehe). Kenapa? karena konsep dan detailnya luar biasa. Memang keliatannya kecil saja. Tapi tingkat kesulitannya bisa jadi lebih tinggi daripada membuat baju. Mengapa? Karena kita harus membuat amigurumi itu seolah "hidup" dengan ekspresi wajah, proporsi tubuh, apparel pelengkap seperti baju, aksesori, dan lain-lain.

Meskipun sulit, tapi banyak juga penekun amigurumi itu. Mungkin karena adrenalinnya terus terpacu dan otak dipaksa untuk terus berkreasi. Artisan amigurumi yang pertama saya kenal adalah Anna Hrachovec. Sementara untuk yang lokal saya sering takjub kalau mampir ke blog milik Dessy TAB dan blog Desa Boneka milik Cindy. Dan belakangan saya juga berteman di Facebook dengan artisan-artisan amigurumi lainnya seperti Yana Arina, Mia Sabrina, Alvine Craft, Henny Sandra aka Bundo Henny, Festilia Meiandana L, Agnes Romania, Yuniar Wibowo, Shafa Disini, Amore Craft dan masih banyaak lagi artisan amigurumi yang mungkin belum saya tahu.

Loh, malah ngelantur, ya, hehehe. Tak apa lah ya. Kembali ke buku. Dari segi pembuatan, teknik yang digunakan dalam buku ini sebagian besaaar menggunakan teknik crochet, yang teknik knit hanya sedikit, malah cuma satu itu baju atasan dan bawahan untuk baju amigurumi penari bali.


Jika ada pemula yang berniat menantang dirinya to the limit, buku ini jawabannya. Tidak usah khawatir, untuk teknik dasarnya karena ada dicantumkan step by stepnya dengan jelas dan gambar/ilustrasinya pun besar sehingga mudah untuk diikuti.






 Hal lain yang diperlukan ketika mengerjakan projek-projek dalam buku ini adalah  napas panjang dan berdamai dengan rasa frustrasi yang mungkin muncul akibat tidak selesai-selesai dan banyaknya pernak pernik dalam setiap projeknya, salah satunya bikin kumis, beneran bikin kumis, makhota gatot kaca, dan masih banyak lagi sesuai dengan projeknya masing-masing.

Totalnya ada sebelas kreasi dalam buku Boneka Rajut Amigurumi Nusantara ini. Apa saja boneka itu, yuk, kita ulik.
  1. Amigurumi Bali
  2. Amigurumi Minang
  3. Amigurumi Yogyakarta 1
  4. Amigurumi Yogyakarta 2
  5. Amigurumi Dayak
  6. Amigurumi Aceh
  7. Amigurumi Madura 1
  8. Amigurumi Madura 2
  9. Amigurumi Madura 3
  10. Amigurumi Madura 4
  11. Amigurumi Gatot Kaca
Ini dia foto kreasi dan detailnya (minus amigurumi bali karena udah di atas :) )











Kebayang juga dong, ngerjain amigurumi yang pernik-pernik gitu. kecil-kecil dan detail. Contohnya Amigurumi Yogyakarta, detailnya meliputi baju kebaya, samping bawahan, sanggul (wooow sanggul dong ... tabik berat buat yang bikinnya) sama kembang goyangnya alias cunduk mentulnya .... kebayang kecilnya dan ngerjainnya (takjub berat). Di buku ini saya paling suka sama amigurumi bali, gatot kaca, dan amigurumi yogya, hehehe.

Tapi tidak usah khawatir, semua petunjuknya lengkap. Dari pola diagram dan pola tulisannya, langkah demi langkah pengerjaannya, dan itu berlaku untuk semua projek. Kebayaaang banget perjuangannya para desainer sekaligus artisan dari mulai risetnya, desain, ujicoba projek, bongkar pasang, dan nulis polanya. Makanya, bener-bener salut berat sama artisan yang berhasil nulis buku ini.

Semua aspek dalam buku ini saya jempol semuanya, dari mulai pengemasan, konsep buku, layout, penulisan pola, kecuali ... hehehe ... tetap ada kecualinya yaa. :P. kurangnya cuma satu, analisis usahanya kurang mendetail terlalu singkat. Awalnya saya membayangkan uraiannya akan mendetail seperti dalam postingan yang ditulis oleh Mbak Prapti "Nupi-Nupi" ketika dia melakukan analisis usaha dalam menentukan harga jual paket belajar flanel miliknya dan tambahan lagi untuk segmentasi pasarnya. Meskipun begitu, terlepas dari satu kekurangan itu, buku ini sempurna menurut saya. hmm, mungkin juga karena batasan jumlah halaman yang membuat pembahasan tersebut tidak didetailkan.

Sekadar saran bagi para pembaca ketika memutuskan untuk membuat amigurumi ini, pastikan segmentasinya. Jenis amigurumi yang ada dalam buku ini bukan amigurumi sederhana dan sebentar dalam pengerjaannya. Ini detail, serius, dan perlu waktu. Jadi, jika pembaca menjualnya, hargailah kerja keras pembaca sendiri. Mengapa? Karena membuatnya pasti "berdarah-darah" halah mak bahasanya. :).

Untuk amigurumi jenis ini, jika ingin digunakan sebagai usaha menambah penghasilan, juallah dengan harga premium, mengapa? Karena kreasinya eksklusif, untuk menambah agar lebih eksklusif lagi, kemas dalam wadah mika tebal atau kaca, seperti suvenir berharga lainnya. Ini juga bisa jadi salah satu contoh suvenir untuk wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia. Benar-benar bisa dijadikan sebagai suvenir khas Indonesia. Untuk yang ini tampaknya masih belum banyak dilirik, peluangnya sepertinya masih besar.

Sekali lagi, salut untuk penulis buku ini. Saya menantikan buku rajutan berikutnya, Amigurumi Bunga Nusantara. :)

Teruus, hehehe, untuk Dessy Tab dan  Cindy Desa Boneka, semoga mereka berdua cepat bikin buku. Aaamiiin.

Perajut Indonesia, terus berkarya!

Berhubung saya suka sama amigurumi gatot kaca, saya juga mau nampang ala kumis gatot kaca, ah.

Salam Kumis eh gatot kaca :P


















Posted in , , , , , | 1 Comment

Search

Swedish Greys - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.