Sabtu, 29 September 2012

Buku Keterampilan yang Sedang Naik Daun

Buku keterampilan memang tidak ada matinya. Tren buku ini memang sempat mati suri, terutama buku rajutan baik itu crochet ataupun knit. Kini buku rajutan sedang naik daun, atau mulai turun juga sebenarnya. Ah, biar begitu, peminat buku rajutan masih banyak, kok, dari pemula sampai mahir. Minat untuk belajar sendiri dari buku atau live via video dari youtube, masih tinggi. Demikian pula yang kursus.

Adapun motivasi belajar merajut itu sendiri bisa beraneka ragam, ada yang memang tertarik untuk menambah penghasilan dengan cara membuat bros rajutan yang sedang marak banget, membuat baby gift set yang terdiri atas baju bayi, topi, sepatu dan sarung tangan bayi, taplak meja, atau banyak lagi yang nantinya akan dijual lagi atau digunakan sendiri atau bisa juga sebagai hadiah untuk kerabat, sahabat, atau kolega kerja misalnya.


Saya mulai berjualan buku rajutan sejak idul adha tahun lalu (2011), alhamdulillah peminatnya semakin banyak. Hal  yang sering membuat saya kerepotan adalah konsumen yang menanyakan isi buku dan apa saja projeknya. Sementara buku disegel dan saya tidak tahu isinya. Saya hanya tahu judulnya saja. Kalau dibuka, berarti saya membuka segelnya. Nah, tidak semua konsumen suka buku yang dibelinya segelnya terbuka. Coba saja, kalau pembaca pergi ke toko buku, ketika membawa buku yang diinginkan ke kasir, pasti buku yang disegel, kan. Bukannya buku yang sudah terbuka segelnya.

Saya pun mencari cara yang sama-sama menguntungkan untuk saya dan konsumen. Idenya berasal dari teman satu kos. Ketika itu saya titip kepadanya untuk membelikan sebuah buku. Di toko buku tempatnya membeli punya kebijakan menyampul plastik semua buku yang dijualnya. Saya lupa berpesan kepadanya agar tidak perlu menyampulnya. Walhasil, buku itu sampai ke tangan saya dalam keadaan tersampul plastik dan itu berarti segel bukunya sudah dibuka. Wah, saya bingung karena buku itu memang ditujukan untuk dijual kembali. Akhirnya, dengan sangat menyesal, saya pun menjual buku tersebut dengan harga lebih murah dengan alasan segel yang sudah terbuka, laba saya sangat tipis untuk buku tersebut.

Ketika teman saya mengetahui, dia malah memberikan masukan. Seharusnya, buku yang disampul plastik tidak dijadikan sebuah kekurangan, tetapi keunggulan. Toh, dengan disampul plastik buku akan menjadi lebih rapi dan ujung buku tidak mudah lecek. Wah, dia benar juga pikir saya, selain itu, saya juga jadi bisa melihat isi bukunya dan mengecek isi buku apakah ada yang cacat atau tidak (semisal halaman kosong atau halaman dobel). Nah, setelah itulah, kepada semua konsumen, saya menawarkan untuk menyampul buku yang mereka beli dan mereka tidak perlu menambah biaya untuk itu.

Kembali lagi ke soal isi buku. Saya merasa kadang ini karma. Sebelum aktif berjualan buku dan benang online, saya bekerja sebagai seorang editor di salah satu penerbit. Kadang saya merasa sebal kepada orang marketing. Mengapa? Karena mereka selalu bolak-balik minta sinopsis dan bertanya apa isi bukunya. Nah, dalam pikiran saya, mereka, kan, marketing. Sudah seharusnya, mereka membaca isi bukunya. Tidak perlu semua, minimal daftar isinya saja. Kini, saya juga begitu. Saya sama seperti marketing itu. Hanya suka menjual bukunya saja, tanpa mencoba mengkaji buku yang saya jual.

Nah, karena itulah saya membuat blog ini. Saya akan mengisi blog ini dengan sekelumit info buku-buku yang saya jual di www.nurcha.wordpress.com. Sehingga, nantinya jika ada konsumen yang bertanya apa isi buku yang hendak mereka beli, saya bisa mereferensikan blog ini kepada mereka.

Rencananya, saya akan mengulas setiap bukunya. Dari mulai cover, daftar isi, tingkat kesulitan buku, kelebihan dan kekurangan buku menurut versi saya. Jadi, ini jelas sekali, subjektivitas saya bermain di sini. Mungkin saya akan mencoba satu projek per buku (yang ini tidak janji - karena crochet lebih sulit menurut saya dari pada knitting).

Saya harus konsisten. Karena mudah sekali untuk tidak konsisten dan malas. Saya selalu mengatakan kepada diri saya, membangun kebiasaan baik itu sama sulitnya menghilangkan kebiasaan buruk, demikian pula sebaliknya menghilangkan kebiasaan baik itu sangat mudah, bahkan sama mudahnya dengan memulai kebiasaan buruk. Termasuk mengisi blog. Mengapa? Karena mengisi blog ulasan jauh lebih sulit daripada sekadar blog curhat.




0 komentar:

Poskan Komentar